search

Anak Takut Matematika? Cara Ini Bisa Membantu!

Bukan cuma susah, buat beberapa anak matematika bisa bikin ketakutan! Gimana cara mengajarkan matematika kepada anak yang mengalami itu?
Anak Takut Matematika? Cara Ini Bisa Membantu!

Klikdokter.com, Jakarta Harus diakui, tak semua anak jago dalam bidang hitung-menghitung. Bahkan, ada juga yang sampai benar-benar takut matematika.

Dilansir Texas Instrument Education Technology (2018), 24 persen anak-anak memang sangat membenci pelajaran ini.

Sebagian yang kesulitan dengan matematika mungkin akan menganggap pelajaran tersebut menantang, sekali pun nilai mereka kurang bagus. Namun, sebagian lagi justru mengalami math anxiety. Apa itu?

1 dari 4

Ciri-Ciri Anak Takut Matematika

Ciri-Ciri Anak Takut Matematika
loading

Gracia Ivonika, M.Psi., Psikolog, mengatakan, “Math anxiety sebenarnya merupakan suatu kondisi seorang siswa yang merasakan emosi negatif berlebih, seperti cemas, takut, sedih, dan frustrasi dalam memecahkan persoalan yang melibatkan angka dan konsep matematika. Ini berlaku di kehidupan sehari-hari maupun akademis.”

Bagaimana ciri-cirinya? Apakah ditandai dengan anak yang sering mengeluh, nilainya jelek, dan sering bolos mata pelajaran ini?

Tidak sesederhana itu, Psikolog Gracia berpendapat ada beberapa ciri khas dari anak yang benar-benar takut matematika, misalnya:

  • Mundur Sebelum Perang

Misalnya, anak mungkin langsung mengatakan “tidak bisa” bahkan sebelum melihat soalnya. Anak mungkin pasif dan mengharapkan bantuan orang lain dalam menghitung.

  • Panik dan Susah Fokus

Merasa gelisah, panik, dan tegang saat belajar atau menyelesaikan persoalan matematika. Dampaknya, anak sulit fokus atau tidak efektif dalam memahami dan menyelesaikan soal.

  • Kabur dari Matematika

“Anak yang mengalami math anxiety juga kerap menghindari berbagai situasi yang mengharuskannya belajar dan mengerjakan soal hitung-hitungan,” katanya.

  • Sering Bandingkan Nilai

“Anak yang takut matematika juga sering membandingkan nilainya dengan nilai teman-temannya. Padahal, dengan membandingkan seperti itu membuatnya semakin tidak percaya diri,” tambahnya.

Artikel Lainnya: Anak Kesulitan Matematika, Mungkin Dyscalculia Penyebabnya

2 dari 4

Apa Penyebab Math Anxiety?

Ilustrasi Math Anxiety
loading

Math anxiety tidak selalu berkaitan dengan rendahnya kapabilitas anak dalam mengaplikasikan kemampuan matematikanya.

Dengan kata lain, anak yang biasa gugup terhadap matematika tak cuma karena ia benar-benar tak bisa menghitung.

“Ya, ada beberapa faktor yang menyebabkan anak jadi takut matematika, misalnya mungkin punya pengalaman buruk yang membekas seperti dimarahi habis-habisan saat gagal,” jelas Gracia.

“Tingginya tuntutan orang sekitar yang tak sebanding dengan dukungan dan apresiasi juga bisa memengaruhi anak bermusuhan dengan pelajaran yang satu itu,” lanjutnya.

Apabila anak Anda sedari awal sudah memiliki kepercayaan diri dan pengaturan emosi yang rendah lalu dikombinasikan dengan hal-hal di atas,  makin bencilah ia dengan matematika! Lalu, adanya faktor kognitif juga tak boleh diabaikan.

Dirinya menambahkan, “Intelegensi yang di bawah rata-rata ketimbang anak lain seusianya, lalu kemampuan mengolah informasi numerik dan aritmatik yang kurang berkembang, serta masalah diskalkulia (ketidakmampuan menghitung) juga bisa membuat seorang anak takut matematika.”

Sebuah penelitian tahun 2019 yang dipublikasikan dalam jurnal Deutsches Ärzteblatt International melaporkan, kurang lebih 3-7 persen anak, remaja, dan orang dewasa memang menderita diskalkulia.

Artikel Lainnya: 5 Permainan Ini Bantu Anak Cerdas Matematika

3 dari 4

Cara agar Anak Tidak Takut Matematika

Seorang Anak Belajar Matematika
loading

Untung saja, ada banyak cara agar anak tak lagi takut dengan persoalan hitung-menghitung. Beberapa langkah yang dianjurkan Psikolog Gracia Ivonika, antara lain:

1. Kerja Sama antara Guru dan Orang Tua

Untuk anak usia sekolah, diperlukan peran signifikan dari guru dan orang tua dalam membantu anak menangani kecemasannya terhadap matematika.

2. Target Harus Realistis

Jangan cuma fokus pada target performa atau ekspektasi yang terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan kemampuan anak. Orang tua dan guru perlu fokus dalam mengapresiasi proses belajar maupun usaha yang sudah dilakukan anak.

3. Selalu Beri Dukungan Fisik dan Emosional

“Ajari anak secara langsung dengan cara belajar yang sesuai dengannya, beri anak kesempatan untuk mencoba sendiri, hargai sekecil apa pun usaha anak, apresiasi semangat dan keberaniannya untuk terus mencoba,” ucapnya.

4. Bikin Suasana Belajar yang Nyaman

“Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sesuai usia anak, misalnya dalam bentuk kuis atau games, menggunakan media belajar yang menarik, dan lain sebagainya. Ini supaya anak bisa membangun persepsi yang positif terhadap matematika,” sarannya.

Artikel Lainnya: Belajar Bahasa Asing Efektif untuk Mencegah Demensia, Benarkah?

5. Jangan Selalu Menyalahkan dan Merendahkan

Kondisi ini sering dilupakan orang tua. Terus menyalahkan dan merendahkan akan semakin membuatnya trauma dengan angka-angka.

6. Berikan Kursus Tambahan yang Sesuai

“Sesuaikan guru maupun kelas dengan metode pengajaran yang nyaman untuk anak. Misalnya, anak yang lebih mudah mempertahankan atensi dalam metode belajar one-on-one dapat difasilitasi kursus privat, dan sebaliknya,” saran Gracia.

7. Istirahat Juga Penting

Atur jadwal belajar yang seimbang dengan waktu istirahat. Sesuaikan juga dengan kemampuan atensi anak. Misalnya, beri jeda istirahat 10 menit setiap 1 jam belajar.

8. Jaga Sikap Anda terhadap Matematika

Menurut Texas Instruments Education Technology, sebanyak 44 persen anak pernah mendengar orang dewasa mengucapkan “Saya tidak suka atau benci matematika”.

Anak pada dasarnya memerhatikan pola orang dewasa. Apabila Anda sering mengungkapkan perasaan negatif tentang matematika, maka itu juga akan memengaruhi anak.

9. Sering Berlatih Bersama

Dalam hal keterampilan matematika seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, tidak ada yang mengalahkan latihan.

Anda juga bisa memberi si kecil hadiah ketika ia mampu menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat.

10. Salah Itu Wajar

Kalau tak salah, ya, tak belajar! Kesalahan merupakan sesuatu yang akan terjadi dan itu adalah kesempatan belajar.

Coba bantu anak menempatkan kesalahan ke dalam perspektif yang berbeda. Ingatkan bahwa kesalahan itulah yang akhirnya akan membantunya belajar dengan lebih baik.

Baca Juga

Kini Anda sudah tahu kan penyebab takut matematika dan cara mengajarkan matematika yang tepat kepada anak? Semoga informasi di atas dapat bermanfaat, ya!

Bila ada pertanyaan seputar tumbuh kembang anak dan pola asuh, langsung konsultasikan kepada dokter atau psikolog lewat fitur LiveChat di aplikasi Klikdokter.

(FR/AYU)

REAKSI ANDA

0 KOMENTAR

Tulis Komentar Anda

Masuk KlikDokter untuk
meninggalkan komentar

Masuk
livechat