Terapi Akupunktur untuk Radang Sendi

Oleh dr. Karin Wiradarma pada 13 Jul 2016, 13:04 WIB
Semakin banyak orang mencari terapi alternatif selain obat-obatan untuk mengatasi radang sendi. Salah satu pengobatan alternatif yang marak dilakukan adalah terapi akupunktur. Namun, efektifkah alternatif ini?
Terapi Akupunktur untuk Radang Sendi

Radang sendi adalah penyakit kronis yang diderita oleh banyak orang, terutama lansia. Penyakit radang sendi yang paling sering dialami adalah osteoartritis (OA) dan reumatoid artritis (RA).

Osteoartritis merupakan penyebab kecacatan nomor delapan di dunia. Tercatat bahwa 80% lansia yang berusia di atas 65 tahun menderita osteoartritis (OA). Kejadian osteoartritis (OA) ditemukan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Pada usia di atas 65 tahun, wanita dilaporkan lebih banyak mengalami osteoartritis (OA) dibandingkan laki-laki.

Osteoartritis (OA) disebabkan oleh proses penuaan atau degeneratif dan lebih banyak mengenai lansia. Sedangkan reumatoid artritis (RA) disebabkan oleh kelainan autoimun, serta umumnya mengenai orang yang lebih muda dan masih tergolong ke dalam usia produktif.

Sel darah putih yang seharusnya melindungi tubuh dengan menghancurkan kuman penyebab penyakit, malah menyebabkan penyakit dengan merusak sendi. Seperti osteoartritis (OA), reumatoid artritis (RA) pun dapat berujung kepada kecacatan.

Belum Ditemukan Obatnya

Hingga kini, belum ada pengobatan yang benar-benar dapat menghilangkan penyakit osteoartritis (OA) dan reumatoid artritis (RA) sepenuhnya. Terapi yang selama ini dilakukan hanya bertujuan untuk menghilangkan nyeri, menjaga fungsi sendi, dan mencegah terjadinya kecacatan. Namun jika pengobatan dihentikan, perjalanan penyakit akan terus terjadi.

Peneliti terus mencari alternatif pengobatan lain, selain dengan obat-obatan konvensional. Salah satu terapi alternatif yang banyak dilakukan adalah akupunktur. Akupunktur disinyalir dapat memberikan hasil yang menjanjikan dalam terapi radang sendi.

Mengenal Akupunktur

Akupunktur berasal dari masa Cina kuno, pada masa Dinasti Shang. Akupunktur yang telah dilakukan sejak 3000 tahun yang lalu ini berpendapat bahwa kesehatan terjadi jika energi (qi) dalam tubuh stabil. Apabila terjadi ketidakseimbangan dalam qi, maka akan terjadi penyakit.

Praktisi akupunktur percaya bahwa qi mengalir di garis meridian tubuh. Jika titik-titik tertentu di sepanjang garis meridian tersebut dirangsang dengan penusukan jarum, maka keseimbangan energi qi dapat dikembalikan. Dengan kata lain, penyakit dapat disembuhkan dengan menyeimbangkan qi.

Dewasa ini tercatat semakin banyak orang yang melakukan terapi akupunktur – termasuk di belahan dunia bagian barat. Pada tahun 2002, tercatat sebanyak 8 juta orang Amerika menggunakan terapi akupunktur untuk terapi nyeri punggung, sendi, dan leher. Penggunaan akupunktur sebagai terapi alternatif kian meningkat pada tahun 2007, yakni sebesar 31%.

Efektivitas Akupunktur

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk membuktikan efektivitas akupunktur sebagai terapi nyeri sendi, terutama osteoartritis (OA) dan reumatoid arthritis (RA). Dari kumpulan studi tersebut, disimpulkan bahwa akupunktur efektif dalam mengurangi gejala nyeri sendi, meminimalkan proses peradangan yang terjadi di dalam sendi, dan memperbaiki fungsi sendi.

Bahkan, ada pula studi yang meneliti efektivitas teknik akupunktur yang dikombinasikan dengan racun lebah. Teknik pengobatan yang berkembang pesat di Korea ini diklasifikasikan sebagai “akupunktur herbal”, dan diyakini lebih berkhasiat dibandingkan dengan akupunktur konvensional.

Studi-studi menemukan bahwa akupunktur yang dikombinasikan dengan racun lebah terbukti dapat berhasil meredakan nyeri dan peradangan pada sendi, baik pada percobaan hewan maupun uji klinis pada manusia. Selain itu, penelitian juga melaporkan bahwa hasil yang diperoleh dengan terapi akupunktur racun lebah ini lebih efektif dibandingkan dengan akupunktur biasa.

Meskipun demikian, mereka yang alergi terhadap sengatan lebah tidak dianjurkan untuk melakukan terapi ini. Pasalnya, dilaporkan pula adanya reaksi alergi serta anafilaksis – reaksi alergi berat yang dapat menimbulkan pingsan hingga fatal – setelah melakukan terapi akupunktur racun lebah.