Diet Keto vs Diet Detoks: Mana Lebih Efektif Turunkan Berat Badan

Oleh dr. Sepriani Timurtini Limbong pada 03 Jan 2018, 12:26 WIB
Anda sedang dalam program menurunkan berat badan, dan bingung harus memilih diet keto atau diet detoks. Yuk, kenali keduanya terlebih dulu!
Diet Keto vs Diet Detoks: Mana Lebih Efektif Turunkan Berat Badan (Sewcream/shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Saat ini ada beragam metode diet yang bisa dicoba. Dua di antaranya yang sedang ramai dibicarakan adalah diet keto dan diet detoks. Pertanyaannya, manakah yang benar-benar efektif untuk menurunkan berat badan?

Apa itu diet keto dan diet detoks?

Sebelumnya, mari kenali lebih jauh kedua metode diet tersebut. Diet ketogenik atau keto adalah diet rendah karbohidrat tinggi lemak. Secara sederhana, metode diet ini membuat seseorang membatasi asupan karbohidrat dan menggantinya dengan lemak.

Dengan demikian, tubuh akan berada pada kondisi yang disebut ketosis. Tubuh akan membakar lebih banyak lemak untuk diubah menjadi energi. Metode ini diklaim dapat menurunkan berat badan dan menurunkan risiko berbagai penyakit, seperti epilepsi dan Alzheimer.

Sementara itu, diet detoksifikasi atau detoks adalah diet dengan mengonsumsi hanya buah dan sayuran, menghindari lemak dan karbohidrat, dan membatasi makanan olahan. Disebut detoksifikasi, karena dengan metode ini diharapkan organ pencernaan dapat ‘di-puasa-kan’ dari zat-zat yang berbahaya bagi tubuh.

Apa saja efek samping keduanya?

Baik diet keto maupun diet detoks memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dengan mengurangi asupan karbohidrat, mereka yang menerapkan diet keto akan mengalami penurunan berat badan yang cukup signifikan tanpa harus merasa lapar berlebihan karena komposisi lemak yang masih tinggi.

Namun, diet ini tidak sepenuhnya aman bila diterapkan oleh mereka yang mengalami diabetes atau penyakit endokrin karena dapat menyebabkan hipoglikemia (kadar gula darah menurun drastis). Selain itu, bila sumber lemak yan dikonsumsi tidak sehat (lemak jenuh), malah dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Demkian pula dengan diet detoks. Diet ini baik karena tinggi serat dan dapat mencegah asupan makanan olahan yang cenderung banyak mengandung pengawet, pewarna, dan pemanis buatan.

Akan tetapi, diet ini akan menyebabkan kelelahan dan kekurangan makronutrien seperti protein dan lemak. Pelaku diet detoks juga rentan terkena anemia akibat kekurangan zat besi.

Jadi, manakah yang lebih efektif?

Sejauh ini, belum ada bukti ilmiah mengenai efektivitas dan keamanan kedua metode tersebut.

Keduanya memang menjanjikan penurunan berat badan, tetapi ada efek samping di balik manfaatnya itu, yaitu kekurangan beberapa zat gizi tertentu. Bila hal ini dibiarkan dalam jangka waktu lama, akan berakibat buruk bagi tubuh secara keseluruhan.

Oleh karena itu, sebaiknya tetap berkonsultasi dengan dokter ahli gizi sebelum mulai menerapkan salah satu metode diet ini.

Sebenarnya, hal yang paling aman dilakukan untuk menurunkan berat badan berlebih adalah kombinasi antara pola makan dan aktivitas fisik rutin. Tidak masalah mengonsumsi karbohidrat ataupun protein, selama masih dalam rentang normal yang diperlukan tubuh.

Lakukan aktivitas fisik rutin tiga hingga lima kali per minggu selama minimal tiga puluh menit. Dengan demikian, tak hanya berat badan yang turun, tubuh Anda pun akan lebih bugar.

Kenali baik-baik diet keto dan diet detoks sebelum menerapkannya. Dan yang terpenting, terapkan pola hidup sehat secara menyeluruh sehingga Anda bisa mendapatkan berat badan ideal dan tubuh yang sehat sekaligus.

[RS/ RH]

Novi KharismaNovi Kharisma

dari yang saya teliti,kebanyakan dari orang diet itu akhir" nya dia mengalami masalah pada lambungnya,dan itu sangat fatal sakitnya hingga berbulan bulan, apakah setiap orang diet itu selalu seperti itu?