Sebelum Mewabah, Cegah 4 Penyakit Musim Kemarau Ini

Oleh dr. Andika Widyatama pada 22 May 2018, 18:06 WIB
Musim kemarau tiba. Mari lindungi diri dan keluarga dari ancaman penyakit musim kemarau.
Sebelum Mewabah, Cegah 4 Penyakit Musim Kemarau Ini (ThinkPoon/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Saat ini beberapa wilayah di Indonesia secara bertahap tengah memasuki musim kemarau. Ketika musim kemarau berlangsung, udara terasa menjadi lebih panas, lebih kering, dan lebih berdebu. Kondisi lingkungan seperti ini turut mengundang munculnya berbagai penyakit musim kemarau, antara lain:

1. Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA)

Saat musim kemarau, hujan bisa tidak turun dalam waktu yang lama (meski beberapa tahun belakangan hujan juga kadang turun saat kemarau sebagai dampak perubahan iklim). Debu-debu yang bertebaran di udara berpotensi mengakibatkan iritasi pada saluran pernapasan, sehingga Anda berisiko mengalami ISPA.

Selain itu, udara yang cenderung panas dan terik saat musim kemarau dapat membuat seseorang cenderung mengonsumsi minuman yang dingin. Ini juga dapat meningkatkan risiko terjadinya ISPA, dengan gejala antara lain demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, suara serak, dan sebagainya.

Untuk mencegah serangan ISPA, lakukan pencegahan dengan menggunakan masker saat berada di luar ruangan dan ketika berada di tengah keramaian. Jika seseorang di tempat yang ramai menderita ISPA, ia dapat dengan mudah menulari orang-orang di sekitarnya. Selain itu, pastikan Anda rajin membersihkan lingkungan rumah dengan membersihkan sarang debu dan menjaga sirkulasi udara ruangan dengan ventilasi yang memadai.

2. Diare

Selain ISPA, diare juga umum ditemui saat musim kemarau. Ini karena saat musim kemarau, kualitas air menjadi terganggu sehingga memengaruhi pasokan air bersih yang diperlukan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti penggunaan untuk proses mencuci makanan dan peralatan masak dan makan. Padahal, kebersihan makanan yang bebas dari kuman penyakit bergantung dari kualitas air.

Kurangnya pasokan air bersih juga membuat lingkungan menjadi lebih kotor sehingga dihinggapi banyak kuman penyebab penyakit. Dengan begitu, makanan akan lebih mudah tercemar. Selain itu, kondisi musim kemarau membuat makanan lebih mudah terkontaminasi oleh udara yang berdebu. Pada akhirnya, kondisi hidangan makanan yang kurang higienis dapat berisiko menimbulkan diare.

Agar Anda dan keluarga terhindari dari diare, akan lebih baik jika Anda mengonsumsi makanan yang Anda masak dan hidangkan sendiri di rumah dibandingkan dengan makanan yang Anda beli di luar rumah, khususnya dari warung kaki lima, yang kurang terjamin kebersihannya. Bila perlu, bawa bekal dari rumah untuk dimakan di kantor atau ketika Anda bepergian.

Penting untuk diketahui bahwa kebiasaan rajin mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, sebelum menyiapkan makanan, setelah dari toilet, dan setelah menyentuh benda-benda yang kotor bisa melindungi Anda dari terjadinya diare.

3. Demam tifoid atau tifus

Demam tifoid, atau secara awam disebut penyakit tifus, merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhii. Penyakit ini sering ditularkan melalui konsumsi makanan yang tercemar bakteri salmonela. Pencemaran makanan dapat terjadi akibat terdapat binatang seperti lalat di sekitar makanan.

Lalat bisa saja membawa bakteri salmonela saat hinggap di makanan jika sebelumnya menghinggapi feses. Kurangnya pasokan air bersih pada musim kemarau dapat membuat lingkungan relatif lebih kotor, yang pada akhirnya menjadi tempat yang ideal untuk lalat berkembang. Pada akhirnya, keadaan tersebut dapat meningkatkan risiko Anda terkena tifus, yang gejalanya adalah demam, sakit kepala, nyeri sendi, sembelit, diare, penurunan nafsu makan, dan nyeri perut.

4. Heatstroke

Heatstroke (sengatan panas) adalah kondisi darurat ketika tubuh mengalami peningkatan suhu tubuh secara drastis dalam waktu cepat, dan Anda tidak sempat mendinginkan tubuh. Heatstroke biasanya terjadi saat seseorang merasa kepanasan akibat paparan suhu panas dari sengatan sinar matahari di luar batas toleransi tubuh dalam jangka waktu lama. Suhu bisa meningkat tajam hingga mencapai 40 derajat Celcius.

Selain peningkatan suhu yang tinggi, gejala heatstroke meliputi penurunan kesadaran, kejang, sakit kepala, bicara cadel, mual, muntah, kulit memerah, napas cepat, denyut jantung cepat, serta kulit teraba panas dan kering.

Heatstroke merupakan kondisi kegawatan yang harus segera mendapatkan pertolongan medis. Ini karena heatstroke dapat merusak fungsi berbagai organ dalam tubuh, seperti otak, jantung, ginjal, dan organ vital lainnya yang dapat mengancam jiwa.

Adapun beberapa upaya pencegahan heatstroke antara lain menggunakan pakaian longgar, proteksi diri (menggunakan kacamata hitam, topi, dan tabir surya), mencukupi asupan cairan, hindari aktivitas di luar ruangan saat suhu terlalu panas, dan lakukan aklimatisasi saat memasuki musim kemarau.

Seperti musim hujan, musim kemarau juga datang bersama dengan ancaman penyakit seperti yang telah dijabarkan di atas. Meski demikian, Anda dapat melakukan berbagai upaya pencegahan agar terhindar dari penyakit-penyakit tersebut. Untuk menjaga kesehatan sekaligus meningkatkan imunitas tubuh, pastikan untuk mengonsumsi makanan dengan gizi yang cukup berolahraga secara rutin, istirahat dengan cukup, serta menjaga kebersihan diri dengan kebiasaan sesederhana mencuci tangan pakai sabun.

(RN/ RH)