Lakukan Ini Saat Bayi Alami Ruam Popok

Oleh dr. Sepriani Timurtini Limbong pada 08 Jun 2018, 10:30 WIB
Kemerahan di area bokong bisa jadi pertanda adanya ruam popok. Jangan panik, Anda dapat lakukan ini di rumah.
Lakukan Ini Saat Bayi Alami Ruam Popok (Ucchie79/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Bagi ibu yang memiliki bayi atau balita, tentu tidak asing dengan ruam popok. Ruam popok atau dermatitis popok adalah kondisi yang sangat umum terjadi pada bayi. Dalam sebuah studi yang melibatkan sekitar 1000 bayi, hampir 50 persen di antaranya mengalami dermatitis popok. Sebagian besar bayi yang mengalami ruam popok berusia 9–12 bulan.

Pada dasarnya, ruam popok terjadi karena pertahanan kulit bayi terganggu, sehingga bahan iritan mudah menyebabkan iritasi pada kulit. Tanda awal dari ruam popok adalah munculnya bercak kemerahan di daerah yang tertutup oleh popok, yaitu perut bagian bawah, bokong, lipat paha, dan area kemaluan. Bercak tersebut dapat disertai lenting kecil berisi air dan kulit yang mengelupas.

Di masa awal, anak mungkin belum tampak terlalu terganggu dengan kondisi ini. Namun, bila dalam 3–4 hari tidak ditangani dengan tepat, ruam popok dapat terinfeksi bakteri ataupun jamur menyebabkan timbulnya rasa nyeri dan bayi mulai terganggu.

Ada berbagai faktor yang menyebabkan ruam popok yaitu:

  •  Iritasi akibat tinja atau urin di popok. Tinja dan urine di popok dapat menyebabkan iritasi dan mempermudah tumbuhnya bakteri.
  • Kulit sensitif. Beberapa bayi memiliki kulit yang cenderung lebih sensitif, sehingga penggunaan popok, terutama popok sekali pakai, dapat memicu iritasi dan ruam popok
  • Ukuran popok yang tidak sesuai. Popok yang berukuran terlalu kecil dapat menyebabkan sirkulasi udara terbatas sehingga mudah iritasi.
  • Alergi akibat makanan baru. Hal ini biasanya terjadi pada bayi yang baru memulai MPASI. Beberapa makanan, seperti produk olahan susu dan buah stroberi dapat mengubah komposisi tinja, sehingga lebih asam dan mudah mengiritasi.
  • Penggunaan antibiotik. Pada bayi yang sedang mengonsumsi antibiotik, karena adanya kondisi medis tertentu akan mudah mengalami ruam popok. Ini karena antibiotik dapat menyebabkan jamur mudah tumbuh di daerah sekitar kemaluan.

 Bagaimana cara mencegah dan mengatasinya?

Sebenarnya ruam popok dapat dicegah dengan beberapa langkah sederhana, yakni:

  • Mengganti popok dengan rutin. Bila si Kecil buang air besar, jangan tunda untuk membersihkan dan mengganti popoknya. Di luar itu, ganti popok bayi setiap 2–3 jam sekali untuk menghindari iritasi akibat urine.
  • Sesekali biarkan bayi berada dalam kondisi tanpa popok untuk membiarkan kulit bayi kering. Namun, tetap dengan catatan lingkungan dalam kondisi bersih.
  • Pastikan ukuran popok sesuai dengan bayi dan tidak terlalu ketat.

 Sementara bila bayi sudah mengalami tanda ruam popok, Anda dapat melakukan beberapa hal ini terlebih dahulu di rumah:

  • Cuci tangan sebelum mengganti popok bayi. Di telapak tangan Anda mungkin menempel banyak kuman yang berpotensi menimbulkan infeksi pada kulit bayi. Untuk itu, cucilah tangan dengan sabun dan air mengalir.
  • Bersihkan area popok dengan menggunakan kapas dan air bersih hangat. Hindari menggunakan tisu basah berbahan alkohol karena akan memperburuk iritasi.
  • Keringkan dengan menepuk kulit pantat bayi. Tidak perlu menggosok daerah pantat bayi terlalu keras, karena hanya akan menambah iritasi di kulit. Gunakan handuk lembut dan tepuk pantat bayi hingga benar-benar kering.
  • Oleskan krim atau salep. Anda dapat memilih krim atau salep dengan kandungan zinc oxide di dalamnya dan mengoleskannya pada bagian yang mengalami ruam.

 Dengan melakukan beberapa langkah di atas, ruam popok bayi dapat membaik. Namun, bila dalam 3–4 hari ruam tidak berkurang atau bahkan bertambah, Anda dapat segera berkonsultasi dengan dokter kulit untuk penanganan selanjutnya.

 (RN/ RH)

Ade FrandikaAde Frandika

dear dokter Sepriani, perkenalkan nama saya Fitri,saya mau bertanya dok,bayi saya mengalami bintik2 merah yang banyak di bagian bokong kaki tangan telapak kaki,sudah saya bawa ke dr spesialis anak,dan sdh di beri obat,tapi sdh 2 hari tidak ada prubahan dok,anak saya sering menangis seperti kesakitan,kira2 penyebabny apa ya dok,dan solusinya apa dok?terimakasih dok,mohon pencerahanny