Posisi dan Teknik Menyusui yang Benar dan Aman

Oleh KlikDokter pada 10 Jul 2018, 15:38 WIB
Agar ASI yang diterima sang bayi optimal, mengetahui posisi dan teknik menyusui yang benar dan aman sangat penting. Baca kiat-kiatnya di sini.
Posisi dan Teknik Menyusui yang Benar dan Aman (Tomsickova Tatyana/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Masa menyusui yang paling krusial adalah pada seminggu pertama pasca-persalinan dan  saat usia bayi 6 minggu. Menyusui membutuhkan pengetahuan tentang keterampilan, posisi, serta teknik yang benar dan aman. Hal tersebut memang membutuhkan waktu dan kesabaran.

Kelelahan menjadi salah satu penyebab yang sering kali mengakibatkan kegagalan pemberian ASI eksklusif. Selain itu, posisi dan teknik menyusui juga menentukan keberhasilan dalam program menyusui. Oleh karena itu, sangat penting bagi Anda yang tengah menyusui mengetahui posisi dan teknik yang benar sehingga bayi tetap nyaman selama menyusui dan ASI yang diterima bayi pun dapat optimal.

Sebelum mulai menyusui, sebaiknya awali dengan suasana yang tenang dan relaks. Posisikan diri dengan duduk di bangku yang nyaman atau dengan menyangga lengan ibu dan bayi menggunakan bantal di satu sisi. Pastikan untuk memosisikan kaki agak tinggi agar lebih nyaman dalam menyangga bayi di pangkuan.

Jangan lupa periksa popok bayi dan ganti bila perlu. Hal ini dapat membantu menstimulasi bayi Anda untuk menyusui, terutama pada bayi yang sedang mengantuk. Bila bayi sudah bangun dan siap untuk menyusui, ganti popoknya saat pergantian menyusui ke payudara satu lagi.

Saat 24–48 jam pertama pasca lahir, bayi cenderung tidur. Usahakan untuk menyusui setiap 1–3 jam pada 24 jam pertama, yang berarti 8–12 kali dalam 24 jam.

Posisi menyusui yang nyaman dan aman untuk ibu dan bayi

Saat menyusui, sangat penting untuk memastikan keamanan dan kenyamanan baik ibu menyusui maupun sang bayi. Oleh karena itu, ketahui dan pelajari tiga posisi ini.

1. Cradle position (tummy to tummy)

  • Duduklah  dalam posisi tegak dengan disangga bantal di punggung atau duduk di tepi tempat tidur.
  • Gendong bayi di lengan, posisikan bayi hingga perut bayi bertemu dengan perut anda, lalu letakkan kepala bayi di siku. Telinga, bahu, dan pinggul bayi dalam posisi satu garis lurus.
  • Posisikan lengan bawah bayi keluar, dan letakkan mulut bayi dekat dengan payudara.
  • Sangga payudara dengan jari-jari tangan pada tangan yang bebas, lalu letakkan jempol dengan ringan di bagian atas puting payudara.
  • Angkat payudara perlahan dan posisikan puting payudara ke bibir bawah bayi. Karena refleks mencari (rooting reflex) pada bayi, bayi akan membuka mulutnya.
  • Tarik bayi perlahan ke arah payudara saat mulut bayi membuka. Jangan bersandar pada bayi Anda. Pastikan punggung Anda tetap tegak dan tarik bayi ke arah payudara.
  • Posisi menyusui yang benar adalah: seluruh puting payudara ada di tengah mulut bayi. Saat bayi mengisap, gusi bayi harus menyentuh seluruh puting dan lidah bayi berada di atas gusi bawah bayi. Pastikan bayi tidak hanya mengisap ujung puting payudara.
  • Posisikan bayi agar tetap dekat dengan Anda. Pastikan juga hidung bayi tidak tertutup payudara Anda.
  • Bila bayi sudah mulai mengisap, pastikan bahu Anda tetap relaks dan terus dekap bayi dalam pelukan

2. Football hold

  • Posisi ini sesuai dengan Anda yang menjalani operasi sesar, berpayudara besar, atau memiliki inverted nipples. Posisi ini juga baik dilakukan pada bayi yang aktif atau bayi yang kesulitan mencapai puting payudara.
  • Duduklah dalam posisi nyaman di kursi atau tempat tidur. Letakkan bantal di samping Anda, samakan level dengan payudara dan punggung belakang.
  • Posisikan bayi secara terlentang sama derajat dengan payudara, lalu sangga dengan lengan dan bantal.
  • Dekap bayi, gunakan tangan untuk menyangga kepala dan lehernya, kemudian dekatkan bayi dengan tubuh Anda. Kaki bayi sebaiknya lurus ke arah punggung ibu sedangkan muka bayi menghadap ke ibu (seolah-olah sedang memegang bola football atau rugbi).
  • Dengan tangan ibu yang bebas, pegang payudara di antara jempol dan jari lain. Posisikan puting payudara ke bibir atas bayi untuk memicu rooting reflex bayi agar bayi membuka mulutnya. Awalnya proses ini bisa makan waktu selama beberapa menit dan membutuhkan kesabaran.

3. Side-lying position

  • Teknik menyusui ini dapat dilakukan pada ibu pascaoperasi sesar yang masih dalam pengaruh anestesi spinal. Posisi ini nyaman untuk ibu dan bayi, bahkan terkadang ibu dan bayi tertidur bersama pada posisi menyusui ini.
  • Berbaringlah pada satu sisi pada permukaan yang datar, letakkan bantal di kepala dan bahu Anda untuk menyangga badan. Payudara yang akan diberikan ke bayi dalam posisi menyentuh tempat tidur. Terkadang, selama menyusui dalam posisi ini, Anda akan cenderung berubah posisi menjadi terlentang sehingga puting payudara tertarik keluar saat menyusui. Untuk mencegah terjadinya hal ini, letakkan bantal di punggung ibu sebagai sandaran.
  • Letakkan bayi di sisi Anda, dengan kepala bayi diarahkan menghadap Anda. Kemudian letakkan bantal bayi untuk memberikan sandaran pada bayi.
  • Pastikan telinga bayi berada pada posisi segaris dengan bahunya. Posisikan bayi agar hidungnya tidak tertutup selama menyusui.

Selain mengetahui tiga teknik di atas, ibu menyusui juga harus memperhatikan posisi mulut bayi saat menyusui yang benar (latch on) untuk menghindari terjadinya lecet pada payudara. Posisi pelekatan yang benar adalah:

  • Pada dagu: pastikan dagu bayi menempel pada payudara.
  • Pada areola: pastikan bahwa yang masuk ke dalam mulut bayi adalah puting dan sebagian besar areola (sekitar 2 cm), bukan hanya puting.
  • Pada bibir: pastikan bahwa baik bibir atas maupun bibir bawah bayi terputar keluar (memble) dan tidak terlipat ke dalam ataupun berbentuk monyong.
  • Pada mulut: pastikan bahwa mulut bayi terbuka lebar dan menempel pada payudara Anda.

Juga tak kalah penting: jangan abaikan nutrisi penting untuk ibu menyusui

Selama menyusui, Anda membutuhkan tambahan 400–500 kalori per hari untuk memenuhi kebutuhan energi. Perkiraan total kebutuhan kalori harian ibu menyusui bisa mencapai 2.000–2.500 kalori.

Untuk memenuhi kalori ekstra tersebut, pilihlah makanan yang bernutrisi tinggi. Selain itu, fokuslah pada makanan yang dapat membantu produksi ASI seperti makanan yang kaya protein dan kalsium, seperti daging tanpa lemak, telur, produk olahan susu, dan kacang-kacangan.

Jangan ragu untuk mengonsumsi makanan yang bervariasi selama menyusui, sehingga bayi juga dapat merasakan berbagai rasa. Ini nantinya dapat membantu bayi dalam proses peralihan ke MPASI.

Selain itu, penuhi kebutuhan cairan dan minum lebih banyak lagi jika mendapati warna urine pekat. Lebih baik hindari minuman manis dan jus kemasan karena konsumsi gula apalagi yang berlebihan bisa menyebabkan peningkatan berat badan. Tentunya ini adalah salah satu hal yang sebisa mungkin Anda hindari, bukan?

Satu hal yang tak kalah penting lagi, demi memperlancar ASI dan memenuhi energi tambahan, Anda bisa mengandalkan PRENAGEN lactamom. Susu ini mengandung nutrisi khusus yang tepat untuk dikonsumsi saat Anda menyusui.

Kandungan vitamin B12 PRENAGEN lactamom dapat membantu meningkatkan produksi ASI. Kualitas ASI pun dapat meningkat karena kandungan DHA, kolin, vitamin D, dan besi. Tak hanya itu, kandungan omega-3 dan omega-6 dalam susu ini dapat membantu pertumbuhan otak bayi. Juga ditujukan untuk memenuhi kebutuhan kalori ekstra ibu menyusui sebanyak 500-550 kalori, minumlah PRENAGEN lactamom dua kali dalam sehari.

Posisi dan teknik menyusui yang benar dan aman sangat menentukan kualitas ASI yang diterima bayi. Oleh karenanya, jika Anda mengalami kesulitan dalam menyusui, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter atau konsultan laktasi agar proses menyusui dapat dilakukan secara baik, nyaman, aman, efektif, dan optimal! Jangan lupa juga untuk selalu memenuhi kebutuhan nutrisi selama menyusui. Selamat menikmati menyusui, Bu!

(RN/ RH)