Pekerja Kantoran Lebih Rentan Stroke, Ini Alasannya

Oleh dr. Sara Elise Wijono MRes pada 15 Oct 2018, 16:10 WIB
Bagi pekerja kantoran, bertambah lagi alasan untuk menerapkan pola hidup sehat. Pasalnya, Anda dikatakan lebih rentan terkena stroke. Mengapa?
Pekerja Kantoran Lebih Rentan Stroke, Ini Alasannya (Fizkes/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Penyakit stroke bisa memiliki dampak yang begitu serius, seperti disabilitas jangka panjang, bahkan kematian. Semua orang takut akan penyakit stroke, tapi sayangnya cuma sedikit yang tergerak untuk melakukan pencegahan sedini mungkin.

Nah, untuk Anda pekerja kantoran, sepertinya Anda harus lebih waspada terhadap penyakit stroke karena Anda dikatakan lebih rentan terkena stroke. Mari kenali alasannya sehingga Anda terhindar dari ancaman penyakit ini di masa mendatang.

Secara umum, stroke dapat dijelaskan sebagai keadaan jaringan otak kekurangan aliran darah yang membawa nutrisi dan oksigen. Terdapat dua penyebab umum stroke, yaitu sumbatan pada pembuluh darah yang menyebabkan stroke iskemik (stroke paling umum, mencakup 80-87 persen kasus stroke) dan perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah yang menyebabkan stroke homeragik. Kedua keadaan ini dapat menyebabkan suplai darah pada jaringan otak terputus dan dalam jangka waktu tertentu akan menyebabkan kematian jaringan.

Ada beberapa hal yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena stroke. Faktor risiko ini terdi dari keadaan yang tak dapat diubah seperti usia lanjut, ras tertentu, riwayat migrain, dan riwayat stroke dalam keluarga.

Di sisi lain, terdapat juga faktor risiko stroke yang dapat dihindari. Contohnya adalah tekanan darah tinggi (hipertensi), diabetes melitus, berbagai penyakit jantung, kadar kolesterol tinggi, kegemukan atau obesitas, atau gaya hidup tertentu seperti kebiasaan merokok, gaya hidup sedenter, dan lain-lain.

Apa penyebab pekerja kantoran lebih rentan terkena stroke?

Banyak pekerja kantoran yang mengaplikasikan gaya hidup yang menjadikan mereka lebih rentan mengalami stroke. Misalnya, makan makanan yang bergizi kurang atau makanan tidak sehat, kebiasaan merokok, malas berolahraga, dan sebagainya. Seringnya, kesibukan kantor dijadikan alasan gaya hidup tak sehat mereka. Padahal, jika punya tekad kuat, kebiasaan buruk ini bisa diubah!

Stres, utamanya dalam pekerjaan, juga sering kali dianggap memiliki peran sebagai faktor risiko stroke. Sebuah penelitian di Tiongkok menilai dua aspek dari pekerjaan, tuntutan pekerjaan psikologis (misalnya jam kerja, tekanan di tempat kerja, beban mental, dan tingkat tanggung jawab pekerja), dan kontrol pekerjaan (lebih pada kontrol Anda sebagai pekerja kantoran terhadap keputusan-keputusan pekerjaan) berkaitan dengan stroke.

Penelitian di atas menemukan tingkat stres yang tinggi pada mereka dengan pekerjaan yang mana banyak tuntutan tapi dengan kontrol yang rendah, misalnya pekerjaan seperti pramusaji atau perawat. Stres yang tinggi dikaitkan dengan lebih tingginya risiko stroke. Berbagai penelitian lainnya menemukan bahwa orang-orang yang lebih stres dan mengalami tekanan mental berisiko terkena stroke.

Secara tidak langsung, mungkin bisa dijelas bahwa stres terkait dengan faktor risiko lainnya yang sudah dikenal memicu stroke. Misalnya saja tekanan darah tinggi, kegemukan, dan kebiasaan merokok.

Ada satu penelitian dari Universitas Harvard, Amerika Serikat (AS), yang hasilnya cukup menarik. Penelitian menemukan bahwa saat seseorang mengalami stres, area otak tertentu (yaitu amigdala) akan memberikan sinyal kepada sumsum tulang untuk memproduksi lebih banyak sel darah putih.

Selanjutnya, sel ini dapat menyebabkan peradangan dan sumbatan pada pembuluh darah. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sumbatan pembuluh darah adalah salah satu penyebab stroke.

Walaupun saat ini stres belum diakui sebagai faktor risiko stroke, tapi hasil penelitian di atas dianggap cukup menjanjikan. Jadi, mengatasi stres di tempat kerja merupakan salah satu langkah yang bisa Anda lakukan untuk menangkal stroke. Tak hanya itu, keadaan mental yang sehat bebas stres juga tentunya akan membuat Anda lebih bahagia.

Mari lebih aktif bergerak!

Saat sedang membaca tulisan ini, Anda mungkin sedang duduk atau rebahan santai, yang mungkin saja sudah Anda lakukan sejak beberapa waktu yang lalu. Yuk, segera bangkit dan lebih banyak bergerak. Jangan mau jadi salah satu cari ratusan penduduk dunia yang menjalani gaya hidup sedenter alias malas bergerak.

Gaya hidup sedenter adalah pola perilaku yang minim aktivitas fisik. Biasanya, mereka yang mengadaptasi gaya hidup ini adalah pekerja kantoran yang hampir setiap hari menghabiskan waktunya di balik meja kerja, memandangi layar komputer atau laptop.

Tak hanya itu, perjalanan menuju kantor dan pulang ke rumah pun ditempuh dengan transportasi umum atau kendaraan pribadi, yang artinya Anda akan duduk sepanjang jalan. Sesampainya di rumah, Anda sudah terlanjur capek dan lebih memilih untuk beristirahat dan bermalas-malasan untuk melepas lelah.

Kurang atau malas bergerak adalah kebiasaan yang para pekerja kantoran harus segera ubah. Lewat sebuah studi yang dilakukan oleh Aerobics Research Center di AS, aktivitas fisik mampu mengurangi risiko stroke pada pria hingga 60 persen.

Studi lain yang diterbitkan dalam jurnal medis “Nurses’ Health Study” membuktikan, wanita yang cukup bergerak atau melakukan aktivitas fisik memiliki peluang terhindar dari stroke dan serangan jantung hingga 50 persen. Inilah mengapa pekerja kantoran yang terlalu sering duduk bekerja atau bermalas-malasan di depan layar komputer memiliki risiko cukup besar mengalami stroke.

Lebih jauh lagi, jika gaya hidup sedenter disertai pola makan tidak seimbang dan kebiasaan tak sehat lainnya seperti merokok dan/atau minum minuman beralkohol, Anda pun makin berisiko mengalami lebih banyak masalah kesehatan.

1 of 2

Kiat-kiat untuk menjadi lebih sehat di lingkungan kerja

Ada beberapa kiat yang bisa Anda lakukan untuk menjadi lebih sehat di kantor, dalam arti mencegah dan menghindari stres, serta menendang jauh-jauh gaya hidup sedenter. Apa saja?

  • Buatlah urutan pekerjaan yang perlu berdasarkan skala prioritas dan selesaikan satu per satu. Selain itu, dengan membuat urutan tugas dan menyelesaikannya satu per satu akan menghindari tugas yang terlewat.
  • Lakukan meditasi atau latihan pernapasan untuk menenangkan diri, terutama jika Anda merasa beban pekerjaan menyerang. Bernapaslah dalam-dalam untuk membantu memasok oksigen ke otak.
  • Selama bekerja, biasakan ambil rehat sejenak setiap beberapa jam sekali. Gunakan waktu ini untuk berjalan dan melakukan olahraga ringan.
  • Hiaslah area kerja Anda dengan benda-benda yang dapat meningkatkan mood Anda, misalnya tanaman, foto Anda dan orang-orang tercinta, dan sebagainya.

Selain itu, atasi juga dengan menerapkan TANGKAL, yaitu:

  • Teratur periksa kadar kolesterol
  • Awasi asupan dan pola makan
  • Nikmati hidup tanpa rokok dan minuman beralkohol
  • Giat berolahraga
  • Kendalikan berat badan dan hindari stres
  • Awasi tekanan darah
  • Lengkapi dengan konsumsi makanan atau minuman smoothie yang mengandung plant stanol ester

Selain cenderung mengadaptasi gaya hidup sedenter yang malas bergerak, pekerja kantoran memang diketahui lebih rentan mengalami stroke. Supaya Anda terhindar dari penyakit ini di masa mendatang, segera ubah gaya hidup ke arah yang lebih sehat, lebih banyak bergerak aktif, serta bisa mengelola stres dengan baik. Dengan menerapkan kiat-kiat di atas, semoga bisa bebas dari stres, lebih produktif sekaligus bahagia, serta terhindar dari stroke di masa mendatang!

(RN/ RH)

Lanjutkan Membaca ↓