Bolehkah si Kecil Makan Kolak?

Oleh dr. Sara Elise Wijono MRes pada 31 May 2019, 09:45 WIB
Kolak merupakan menu yang tidak asingsaat berbuka puasa di bulan Ramadan. Namun, bolehkah si Kecil konsumsi makanan ini?
Bolehkah si Kecil Makan Kolak? (Amallia Eka/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kolak adalah salah satu makanan khas yang sering ditemui saat bulan Ramadan. Makanan ini seringkali dibuat dengan merebus buah atau sayur, seperti pisang dan ubi; bersama air santan dan gula aren. Rasanya yang manis membuat kolak kerap dipilih sebagai menu berbuka puasa. Lantas, apakah si Kecil boleh makan kolak?

Waspadai ini saat si Kecil makan kolak

Pada dasarnya, si Kecil boleh makan kolak. Hanya saja, yang Bunda perlu waspadai saat si Kecil makan kolak adalah kandungan santan dan gula. Hampir 90 persen dari total kalori santan berasal dari kandungan lemaknya.

Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak sedari kecil dapat membentuk pola makan tinggi lemak setelah sudah dewasa. Padahal, pola makan tersebut berpotensi menimbulkan obesitas dan sumbatan pada pembuluh darah.

Di sisi lain, meski tidak baik dikonsumsi dalam jumlah yang besar, lemak tidak sepenuhnya buruk bagi si Kecil. Lemak juga diperlukan untuk pertumbuhan otak, sistem saraf, dan matanya. Selain itu, lemak juga membantu penyerapan beberapa jenis vitamin yang larut dalam lemak.

Sementara itu, gula juga merupakan sumber kalori yang cukup besar. Sebagai gambaran, 100 gram gula merah mengandung kurang lebih 380 kalori, sementara memasak kolak dapat menggunakan gula merah hingga 300 gram (gr). Bandingkan saja dengan kebutuhan kalori anak usia 2-3 tahun yang kurang lebih 1.000 kalori per harinya.

Tips agar kolak aman bagi si Kecil

Agar kolak aman dikonsumsi si Kecil, ada beberapa hal yang perlu Bunda perhatikan. Simak tipsnya di bawah ini:

  • Sesuaikan tekstur kolak dengan kemampuan si Kecil

Bunda harus menyesuaikan tekstur dengan kemampuan mengunyah si Kecil.

Misalnya dengan memotong isi kolak sehingga lebih mudah dikunyah lalu ditelan si Kecil. Atau Bunda bisa melumat kolak apabila si Kecil masih belum dapat mengunyah dengan baik. Ingat, hindarkan ukuran makanan terlalu besar yang mungkin membuat si Kecil tersedak.

  • Buatlah kolak berbahan labu

Mengganti kolak dengan asupan bergizi lain seperti labu juga bisa jadi pilihan yang baik. Buah labu mengandung banyak vitamin C dan beta-karoten.

Vitamin C dikenal dengan kemampuannya membantu sistem kekebalan tubuh yang kuat. Adapun beta-karoten dapat diubah menjadi vitamin A oleh tubuh setelah dicerna.

Selain itu, labu adalah sumber serat yang sangat baik. Makanan kaya serat penting untuk pencernaan si Kecil yang lancar serta membantu memperlambat laju penyerapan gula dalam darah.

  • Kurangi jumlah gula dan santan

Saat memasak kolak, perhatikan juga jumlah gula dan santan yang digunakan. Kurangi penggunaan gula sehingga kalori dalam kolak tidak berlebihan.

Penggunaan isi kolak yang manis, seperti pisang atau labu, juga dapat mengurangi penggunaan gula sebagai pemanis tambahan. Kiat lain yang dapat Bunda terapkan adalah mengganti pemanis dengan madu.

  • Perhatikan porsinya

Terakhir, perhatikan porsi kolak yang dimakan si Kecil. Perlu diingat, si Kecil cenderung menyukai rasa manis sehingga mungkin akan menghabiskan kolak secara lahap.

Namun, kolak hanyalah camilan,si Kecil juga perlu mengonsumsi makanan utama yang bergizi. Jangan sampai ia kekenyangan makan kolak sehingga tidak dapat mengonsumsi hidangan utamanya.

Kolak sah-sah saja dimakan si Kecil. Hanya saja, Bunda perlu melakukan beberapa penyesuaian, seperti memperhatikan jumlah gula dan santannya. Selain itu, mengganti bahan bakunya dengan labu adalah salah satu cara jitu membuat kolak sehat untuk si Kecil. Jadi, Bunda berencana memasak kolak untuk si Kecil hari ini?

[HNS/ RH]