Alergi Susu dan Intoleransi Laktosa, Apa Bedanya?

Oleh KlikDokter pada 02 Sep 2019, 14:10 WIB
Mual, kembung dan diare setelah Si Kecil minum susu belum tentu disebabkan oleh alergi. Bisa saja itu akibat intoleransi laktosa.
Alergi Susu dan Intoleransi Laktosa, Apa Bedanya? (Regreto/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Si Kecil bisa saja mengalami berbagai reaksi setelah minum susu. Misalnya, kembung, kolik, diare atau bahkan konstipasi atau sembelit yang umumnya muncul beberapa saat setelah Si Kecil minum susu sapi. Tahukah Bunda apa yang menyebabkan kondisi tersebut? Ya, bisa alergi, bisa juga intoleransi laktosa.

Faktanya, alergi dan intoleransi laktosa adalah dua kondisi kesehatan yang memiliki gejala serupa. Kendati begitu, keduanya adalah keadaan berbeda sehingga cara mengatasinya pun tidak bisa disamakan.

Alergi susu sapi

Alergi susu sapi terjadi akibat respons tidak normal dari sistem imun saat tubuh kemasukan susu sapi atau produk olahannya. Kondisi ini memberikan gejala, seperti perut kembung, mual, muntah, diare, konstipasi dan gangguan saluran cerna lainnya.

Gejala-gejala yang terjadi pada alergi susu sapi tidak hanya terbatas pada saluran cerna saja. Artinya, seseorang yang mengalami reaksi alergi akibat mengonsumsi susu sapi juga bisa mengalami gejala ruam merah di kulit, gatal, bibir bengkak, sesak napas hingga penurunan tekanan darah yang mengancam nyawa. Hal ini terjadi karena alergi melibatkan sistem imun tubuh secara umum, dengan proses yang teramat rumit.

Satu hal yang menjadi ciri khas alergi susu sapi adalah, gejala bisa saja terpicu meski hanya terpapar sedikit susu sapi. Gejala-gejala tersebut biasanya akan terjadi tak lama setelah susu memasuki saluran cerna.

Intoleransi laktosa

Intoleransi laktosa terjadi akibat tubuh tidak mampu mengolah laktosa atau jenis gula yang ada dalam susu. Hal ini terjadi pada orang-orang yang memang tidak memiliki enzim laktase di dalam tubuhnya.

Apa itu enzim laktase? Ini adalah sebuah unsur di dalam usus halus yang bekerja memecah laktosa menjadi energi, untuk kemudian digunakan tubuh menjalankan fungsinya.

Nah, karena tidak ada enzim laktase, laktosa yang ada dalam susu tidak dapat dicerna sehingga masuk dalam bentuk utuh ke usus besar. Bakteri yang secara alami hidup di usus besar kemudian melakukan fermentasi pada laktosa tersebut dan terjadilah berbagai gejala.

Gejala yang identik dengan intoleransi laktosa adalah mual, muntah, kembung, nyeri perut hingga diare. Seluruh gejala tersebut hanya terbatas pada saluran cerna alias tidak melibatkan organ-organ lainnya.

Proses terjadinya gejala pada intoleransi laktosa berlangsung secara bertahap dan umumnya dialami setelah konsumsi susu yang mengandung laktosa dalam jumlah banyak.

Mana lebih bahaya?

Bila tidak segera ditangani, alergi susu maupun intoleransi laktosa sama-sama dapat memengaruhi tumbuh kembang Si Kecil. Ini karena kedua kondisi tersebut bisa membuat Si Kecil merasa tidak nyaman, sulit makan, mudah sakit, hingga terancam penambahan tinggi dan berat badannya.

Tidak hanya itu, berbagai keluhan yang terjadi akibat alergi maupun intoleransi laktosa juga bisa menghambat potensi pertumbuhan dan kecerdasan Si Kecil di kemudian hari.

Bunda tentu tak ingin masa depan Si Kecil terancam gara-gara alergi susu maupun intoleransi laktosa, bukan? Jika ya, cara terbaik yang bisa Bunda lakukan adalah dengan memberikan Si Kecil Morinaga Chil School Soya MoriCare+ Prodiges.

Dengan kandungan 100% protein soya, asam amino esensial, serta vitamin dan mineral, Morinaga Chil School Soya MoriCare+ Prodiges adalah pilihan tepat untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi Si Kecil usia 3–12 tahun. Dengan Morinaga Chil School Soya MoriCare+ Prodiges, Si Kecil dapat tetap mendapatkan kebaikan susu tanpa perlu khawatir terjadi reaksi alergi susu sapi maupun gejala intoleransi laktosa.

Sediakan Morinaga Chil School Soya MoriCare+ Prodiges di Rumah sebagai alternatif pengganti susu, untuk si Kecil yang alergi susu sapi atau mengalami intoleransi laktosa. Dengan mengonsumsi Morinaga Chil School Soya MoriCare+ sesuai anjuran, tumbuh kembang si Kecil akan terus optimal!

(NB/ RH)