Vaksin Difteri Saat Hamil

Info Penanya, pria 30 Tahun

Salam kenal dok, saya mau tanya apakah ibu hamil boleh di vaksin difteri?

16 Dec 2017, 16:22 WIB
dr. Andika Widyatama
dijawab oleh: dr. Andika Widyatama

Terima kasih telah menggunakan fitur Tanya Dokter untuk menanyakan mengenai Vaksin Difteri Saat Hamil.

Kami memahami kekhawatiran yang Anda rasakan.

Imunisasi adalah pemberian vaksin pada tubuh seseorang untuk memberikan perlindungan kepada kekebalan tubuh. Sangat penting untuk mencoba menghindari pajanan infeksi yang dapat berbahaya bagi ibu dan janin selama kehamilan. Vaksinasi juga penting dilakukan bagi pasangan yang merencanakan kehamilan. Imunisasi yang rutin dilakukan selama kehamilan sebaiknya ditunda sampai triwulan kedua atau ketiga karena kemungkinan teratogen (membuat cacat) bagi janin. Waktu terbaik untuk membicarakan tentang imunisasi adalah ketika sedang merencanakan kehamilan. Apabila ketika sedang hamil seorang wanita terkena penyakit tertentu maka tergantung dari situasinya, apakah akan diberikan vaksinasi dipertimbangkan dari untung dan ruginya.

Vaksin DPT (difteria, pertusis dan tetanus) aman diberikan pada ibu hamil dan tidak masalah jika sebelumnya sudah pernah imunisasi tetanus. Setelah mendapatkan imunisasi dasar semasa kecil, DPT bisa diberikan sebagai booster 10 tahun sekali. Jika belum pernah mendapatkan sama sekali, maka jadwalnya disesuaikan. Jika memang Anda berada pada tempat wabah difteri terjadi, Anda bisa mendapatkan vaksin ini di fasilitas-fasilitas kesehatan. 

Jenis imunisasi Yang Dibutuhkan Wanita Hamil

Tetanus   (Tetanus Toksoid)    : vaksin ini dianjurkan pada wanita hamil untuk mencegah tetanus neonatorum (tetanus pada bayi) dan sebaiknya diberikan pada wanita yang tidak melengkapi 3 kali imunisasi dasar atau 10 tahun boster

Hepatitis B   : untuk wanita dengan risiko tinggi Hepatitis B (memiliki > 1 pasangan seksual dalam 6 bulan terakhir, memiliki riwayat Penyakit Menular Seksual, penggunaan narkoba suntik)

Influenza (Inaktif)   : vaksin ini dapat mencegah penyakit serius pada ibu hamil namun sebaiknya diberikan setelah minggu ke-14

Jenis imunisasi yang dipertimbangkan diberikan pada wanita hamil dengan pajanan infeksi spesifik

Pneumokokus : diberikan pada triwulan kedua atau ketiga pada wanita dengan risiko tinggi infeksi pneumokokus atau dengan penyakit kronik (wanita dengan gangguan jantung, paru, atau penyakit hati; penurunan kekebalan tubuh; diabetes)

Rabies  : direkomendasikan bagi mereka yang terpajan dengan rabies

Hepatitis A          : belum banyak penelitian mengenai keamanan imunisasi ini selama kehamilan, namun risikonya rendah (karena vaksin berasal dari virus inaktif)

Vaksin Polio Oral & Vaksin Polio Inaktif  

Jenis imunisasi yang tidak direkomendasikan pada wanita hamil

MMR (Mumps, Measles, Rubella) : merupakan kontraindikasi bagi kehamilan karena kemungkinan risiko kelainan bawaan pada janin. Wanita sebaiknya menunggu selama 3 bulan sebelum hamil setelah menerima vaksin virus hidup ini

Varisela    : tidak dianjurkan selama kehamilan karena kemungkinan infeksi varisela pada janin (vaksin merupakan virus hidup). Diberikan minimal 1 bulan sebelum kehamilan

HPV (Human Papiloma Virus)  : memiliki kaitan efek samping terhadap janin dan ibu hamil. Data vaksinasi pada wanita hamil terbatas

Efek samping imunisasi

Efek samping bervariasi baik reaksinya maupun waktu terjadinya efek samping.

Hepatitis A    : nyeri dan kemerahan di tempat suntikan, sakit kepala, kelelahan, reaksi alergi

Hepatitis B   : nyeri di tempat suntikan, demamInfluenza    : kemerahan dan bengkak pada tempat suntikan yang dapat berlangsung hingga 2 hari, demamTetanus-difteri  : demam, nyeri dan bengkak di tempat suntikan

MMR   : rash, pembengkakan kelenjar getah bening leher, nyeri dan kaku pada sendi 1 atau 2 minggu setelah vaksinasi

Varisela  : demam, nyeri dan kemerahan di tempat suntikan, rash sampai 3minggu setelah imunisasi

Pneumokokus           : demam, nyeri di tempat suntikan

Vaksin Polio Oral      : tidak ada

Vaksin Polio Inaktif  : kemerahan, rasa tidak nyaman di tempat suntikan

Yang Harus Diperhatikan:

Semua vaksin yang mengandung bakteri / virus hidup tidak dianjurkan bagi wanita hamil, kehamilan sebaiknya dicegah untuk 28 hari setelah penyuntikan vaksin hidup (varisela, MMR, BCG) namun vaksinasi virus hidup < 28 hari sebelum kehamilan bukan alasan untuk mengakhiri kehamilanVaksin virus / bakteri mati dapat diberikan pada wanita hamil namun waktu ideal untuk pemberian tergantung dari waktu konsepsiKehamilan tidak mengganggu efisiensi dari vaksin

Sebelum Anda memutuskan untuk vaksinasi, tentu Anda perlu berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan Anda.

Demikian penjelasan yang dapat kami berikan mengenai Vaksin Difteri Saat Hamil. Semoga bermanfaat.

Salam,

16 Dec 2017, 16:22 WIB