Memilih KB Saat Mastitis

Info Penanya, wanita 28 Tahun

Dok...saya terkena penyakit mastitis suda 6 bulan,dan sekarang masih kontol sama dokter, payudara saya sudah 3 kali bengkak bernana lalu kempees, selama saya mulao kena penyakit mastitis ini saya tidak oernh ber KB dan sekarang yang mau saya selama saya masih keba sakit mastitis ini apakah saya bole ber KB dok??dan apakah ada pengaruh nya kalau saya ber KB selama saya masi menderita penyakit mastitis ini????? Terimah kasih dok??di tunggu jawaban nya.

22 Dec 2018, 14:58 WIB
dr. Astrid Wulan Kusumoastuti
dijawab oleh: dr. Astrid Wulan Kusumoastuti

Terima kasih telah bertanya seputar Memilih KB Saat Mastitis menggunakan fitur Tanya Dokter di KlikDokter.com

Kami memahami kekhawatiran yang Anda rasakan. Mastitis merupakan suatu proses peradangan pada satu atau lebih segmen payudara yang mungkin disertai infeksi atau tanpa infeksi. Dalam proses ini dikenal pula istilah stasis ASI, mastitis tanpa infeksi, dan mastitis terinfeksi. Apabila ASI menetap di bagian tertentu payudara, karena saluran tersumbat atau karena payudara bengkak, maka ini disebut stasis ASI. Bila ASI tidak juga dikeluarkan, akan terjadi peradangan jaringan payudara yang disebut mastitis tanpa infeksi, dan bila telah terinfeksi bakteri disebut mastitis terinfeksi. Diagnosis mastitis ditegakkan berdasarkan kumpulan gejala sebagai berikut:

  • Demam dengan suhu lebih dari 38,5oC
  • Menggigil
  • Nyeri atau ngilu seluruh tubuh
  • Payudara menjadi kemerahan, tegang, panas, bengkak, dan terasa sangat nyeri.
  • Peningkatan kadar natrium dalam ASI yang membuat bayi menolak menyusu karena ASI terasa asin
  • Timbul garis-garis merah ke arah ketiak.

Faktor risiko terjadinya mastitis antara lain:

  • Terdapat riwayat mastitis pada anak sebelumnya.
  • Puting lecet.Puting lecet menyebabkan timbulnya rasa nyeri yang membuat kebanyakan ibu menghindari pengosongan payudara secara sempurna.
  • Frekuensi menyusui yang jarang atau waktu menyusui yang pendek.
  • Biasanya mulai terjadi pada malam hari saat ibu tidak memberikan bayinya minum sepanjang malam atau pada ibu yang menyusui dengan tergesa-gesa.
  • Pengosongan payudara yang tidak sempurnaPelekatan bayi pada payudara yang kurang baik.
  • Bayi yang hanya mengisap puting (tidak termasuk areola) menyebabkan puting terhimpit diantara gusi atau bibir sehingga aliran ASI tidak sempurna.
  • Ibu atau bayi sakit.
  • Frenulum pendek.
  • Produksi ASI yang terlalu banyak.
  • Berhenti menyusu secara cepat/ mendadak, misalnya saat bepergian.
  • Penekanan payudara misalnya oleh bra yang terlalu ketat atau sabuk pengaman pada mobil.
  • Sumbatan pada saluran atau muara saluran oleh gumpalan ASI, jamur,serpihan kulit, dan lain-lain.Penggunaan krim pada puting.
  • Ibu stres atau kelelahan.
  • Ibu malnutrisi. Hal ini berhubungan dengan daya tahan tubuh yang rendah.
  • Pengobatan mastitis dimulai dengan memperbaiki teknik menyusui ibu.
  • Aliran ASI yang baik merupakan hal penting dalam tata laksana mastitis karena stasis ASI merupakan masalah yang biasanya mengawali terjadinya mastitis.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah ibu harus beristirahat, mengkonsumsi cairan yang adekuat dan nutrisi berimbang. Anggota keluarga yang lain perlu membantu ibu di rumah agar ibu dapat beristirahat. Kompres hangat terutama saat menyusu akan sangat membantu mengalirkan ASI. Setelah menyusui atau memerah ASI, kompres dingin dapat dipakai untuk mengurangi nyeri dan bengkak. Pada payudara yang sangat bengkak kompres panas kadang membuat rasa nyeri bertambah. Pada kondisi ini kompres dingin justru membuat ibu lebih nyaman. Keputusan untuk memilih kompres panas atau dingin lebih tergantung pada kenyamanan ibu.

Meskipun ibu menyusui sering enggan untuk mengkonsumsi obat, ibu dengan mastitis dianjurkan untuk mengkonsumsi beberapa obat sesuai indikasi.

Antibiotik diberikan paling sedikit selama 10 – 14 hari. Biasanya ibu menghentikan antibiotik sebelum waktunya karena merasa telah membaik. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya mastitis berulang. 

Jika gejalanya tidak berkurang dalam beberapa hari dengan terapi yang adekuat termasuk antibiotik, harus dipertimbangkan penyebab lain. Pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mengidentifikasi kuman-kuman yang resisten, adanya abses atau massa padat yang mendasari terjadinya mastitis seperti karsinoma duktal atau limfoma non Hodgkin. Berulangnya kejadian mastitis lebih dari dua kali pada tempat yang sama juga menjadi alasan dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk menyingkirkan kemungkinan adanya massa tumor, kista atau galaktokel. Untuk itu, sebaiknya Anda memeriksakan diri kepada dokter spesialis kebidanan dan kandungan.

Banyak sekali jenis KB yang dapat digunakan. KB yang digunakan tergantung dari usia Anda, Ingin memiliki Anak lagi atau tidak, dan sebagainya. Kalau saya pribadi menyarankan penggunakan IUD. KB jenis ini tidak permanen, dan tidak menggangu hormonal Anda.

Jenis KB spiral atau IUD sebenarnya bermacam-macam sehingga waktu pemakaiannya pun tergantung jenis yang Anda pakai. Secara umum, pemakaian KB spiral atau IUD biasanya dianjurkan diganti antara 5-10 tahun, tergantung jenis alatnya. Sehingga berdasarkan cerita Anda, mungkin ada baiknya Anda kontrol KB ke dokter kandungan atau bidan pada tahun ini untuk memastikan penggantian KB Anda.

Adapun KB spiral tidak memiliki efek mengurangi kesuburan, sehingga segera setelah dilepaskan tingkat kesuburan Anda akan kembali normal, sehingga kemungkinan hamil lagi pun akan sangat besar.

Mengingat hal ini, maka untuk menunda kehamilan sebaiknya Anda melanjutkan dengan KB sesudah melepaskan KB spiral yang saat ini Anda gunakan. Mengenai jenis KB yang sebaiknya Anda gunakan, sebaiknya Anda berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis kandungan atau bidan di sekitar Anda. Hal ini karena pemilihan KB merupakan sesuatu yang harus dipertimbangkan dengan baik, lengkap dengan kondisi kesehatan Anda saat ini.

Demikian informasi seputar Memilih KB Saat Mastitis yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat.

Salam,

22 Dec 2018, 14:58 WIB