Penebalan Dinding Rahim

Info Penanya, wanita 48 Tahun

Hallo dok.seminggu kemarin saya dikuret ksrena penebalan dinding rahim..menstruasi 2 bulan ngak berhenti henti.setelah pulang resep dokter dikasih kalnex.asam mefanemat dan antibiotik..kontrolnya lama 2 minggu dan nunggu hasil biopsi..saya khawatir kalau menstruasi acak acakan lagi..waktu pulang juga ngak dicek lagi sama dokternya dan dikasih obat sama susternya.kok ngak dikasih obat hormon ya dok.Yang saya baca dengan KB hormonal bisa membantu menyembuhkan penebalan hormon.karena usia saya ngak muda lagi takut hormon kacau seperti kakak saya juga pasca kuret bulan depannya pendarahan lagi dan rahimnya diangkat..kalau baru seminggu habis kuret apakah saya boleh memakai pil KB dok..saat ini masih flek2.terima kasih

26 Apr 2019, 15:07 WIB
dr. Devia Irine Putri
dijawab oleh: dr. Devia Irine Putri

Terima kasih karena Anda telah menggunakan fasilitas e-konsultasi Tanya Dokter dari KlikDokter.com

Penebalan dinding rahim, istilah medis sering disebut dengan hiperplasia endometrium.

Penebalan dinding rahim sering menyebabkan rasa sakit  atau perdarahan melalui vagina yang memanjang. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya anemia. Salah satu pengobatan adalah dengan mengangkat jaringan endometrium dengan cara mengerok dinding dalam rahin atau endometrium , hal ini sering dikenal dengan istilah kuretase. pada tindakan ini dilakukan pembedahan berupa pembersihan di dalam dinding rahim, sedangkan bagian yang dikuret yaitu lapisan dalam dinding rahim yang menebal atau dikenal dengan endometrium.

Pasca kuret seringkali berdampak pada kesehatan wanita, meskipun dampaknya berbeda-beda. Walaupun tidak semua yang telah dilakukan kuretase pada dinding rahimnya ini mengalami dampak yang negatif. Pada beberapa wanita sering kali mengalami gangguan siklus datang bulan. Pada prinsipnya setelah tindakan kuret, normalnya tubuh akan mengalami produksi hormon esterogen dan juga progesteron yang dapat membuat wanita mengalami siklus datang bula seperti biasanya. Meskipun demikian kesuburan akan mengalami pemulihan minimal sekitar dua minggu setelah dikuret. Adapula yang tidak mengalami datang bulan pasca terjadinya kuret. Siklus datang bulan setelah kuret dapat terjadi perubahan menjadi tidak teratur bahkan tidak sama sekali mengalami datang bulan. Pada beberapa kondisi pasien terkadang dokter akan memberikan hormon (setelah dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu) untuk memicu terjadinya datang bulan pasca kuret atau melakukan serangkaian test yang berhubungan dengan pemeriksaan hormon untuk mengetahui hubungan hormon dengan kesuburan pada pasien tersebut.

Apabila pasien yang telah melakukan kuret dan mengalami masalah dengan datang bulan sering kali berpengaruh pada kesuburan, hal ini dikarenakan adanya siklus normal dalam pembentukan sel telur yang ideal antara 21 sampai 35 hari. Apabila siklus menstruasi telah normal maka dapat dengan mudah menentukan masa subur untuk kembali merencanakan kehamilan berbanding terbalik dengan pasien pasca kuret yang siklus datang bulan tidak teratur bahkan tidak sama sekali. Meskipun dianggap aman melakukan kuret akan tetapi dalam melakukan prosesnya harus sesuai dengan prosedur dan indikasi yang seharusnya. Sehingga mengurangi kondisi yang buruk, seperti gangguan siklus datang bulan yang berlanjut akan menyebabkan terjadinya asherman’s syndrome dimana terbentuknya perlengketan atau adhesi intrauterine yang umumnya disebabkan oleh luka yang akan berkembang pasca operasi rahim. Pada pasien yang menderita gangguan ini seringkali mengalami pengurangan siklus haid, kejang perut, bahkan mengalami tidak adanya datang bulan sebelum waktunya (amenorrhea) bahkan yang lebih parah akan mengalami kemandulan atau masalah kesuburan (infertilitas).

Pilihan Terapi atau pengobatan lain adalah sebagai berikut:

  • Tindakan kuratase selain untuk menegakkan diagnosa sekaligus sebagai terapi untuk menghentikan perdarahan.
  • Selanjutnya adalah terapi progesteron untuk menyeimbangkan kadar hormon di dalam tubuh. Namun perlu diketahui kemungkinan efek samping yang bisa terjadi, di antaranya mual, muntah, pusing, dan sebagainya. Rata-rata dengan pengobatan hormonal sekitar 3-4 bulan, gangguan penebalan dinding rahim sudah bisa diatasi. Tentunya penggunaan terapi hormonal harus sesuai dengan hasil pemeriksaan dokter dan dibawah pengawasan dokter yang menangani. Jikalau pengobatan hormonal yang dijalani tak juga menghasilkan perbaikan, biasanya akan diganti dengan obat-obatan lain.
  • Khusus bagi penderita hiperplasia kategori atipik, jika memang terdeteksi ada kanker, maka jalan satu-satunya adalah menjalani operasi pengangkatan rahim.

Ada baiknya Anda berkonsultasi kepada dokter spesialis kandungan dan kebidanan yang menangani Anda untuk mengetahui secara pastinya pengobatan lanjutan yang akan dilakukan. 

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat.

 

Salam,

26 Apr 2019, 15:07 WIB